I left my Blue.. I left my Red.. I Left my Purple.. I left my Green.. I Left my White.. And now I gather them here..

Suatu saat di Shanghai (bukan cerita fiksi)

Terakhir kali kulihat jam tangan, pukul 20.47, belum terlalu malam memang, tapi badanku sudah tak karuan terasa lelahnya.

Reuni GANGGA (Gabungan Angkatan Tiga), sempat terlupakan. Entah antara sadar dan tidak, aku berjalan lagi ke kompleks tersebut. Gedung dengan sayap utara dan selatannya. Namun kini lebih indah, lebih asri, dan mungkin bisa dibilang lebih modern. Aku lelah, cuma ingin segera tidur di kasurku. Segera kunaik tangga ke lantai lima blok C tepatnya, sudah lama sekali tak kesini. Aku membuka pintu kamar, ada beberapa orang yang sudah tertidur lebih dulu disana. Kulepas jas hitamku dan menggantungkan (seperti biasa) di sisi ranjangku. Lelah, Sambil terus menghitung berapa lama sudah kutinggalkan tempat ini. Ada lima tahun lebih mungkin. Dan umurku… aah entahlah, setidaknya sudah lebih dari 23 tahun..

Pagi menyambutku, namun tanpa matahari. Kulihat ranjang sebelah, Heru dan Franky masih tertidur pulas. Tanpa menganggu, aku beranjak dan mengambil jas hitamku, ada urusan yang mesti kuselesaikan hari ini. Turun dari lantai lima lewat tangga, sudah amat sangat biasa bagiku. Namun, ada yang berbeda di lantai satu, ada tanaman hias yang bergerak mendekatiku. “Awas, Dia itu kalo nempel di tubuh orang gatal lho”, ujar petugas keamanan yang tiba-tiba muncul. Aku dan beberapa orang di lantai satu terpaksa membantu menjebak tanaman itu untuk kembali ke tempat semula, pot tempat dia berdiri. Agak sedikit membutuhkan waktu memang. Tak apalah, setidaknya coat suitku tak terkotori.

Gedung yang kembar dengan sebelumnya, tepat di depan penginapanku, adalah tujuanku hari ini. Lantai lima juga. Tak usah ditanya, aku tak masalah bila harus naik tangga. Lantai lima sudah lumayan ramai, tapi menurutku sepi untuk pelaksanaan akad nikah. “Sudah Siap Yan?” ujar seseorang yang amat berwibawa di depanku. “Ya, Ayah”, ujarku dan duduk bersamanya di depan khalayak ramai. Rasa cemas, senang, sedih, bingung, berbaur jadi satu. Entah, tak pernah kurasa sensasi aneh ini. Yang kutahu, ini adalah salah satu yang pasti dihadapi seorang pria sepertiku, menikah. Serius kudengarkan kata-kata sang Penghulu, yang ternyata ayahku sendiri, dengan perasaan campur aduk. Ibu dan Adik-adikku melihat dari kejauhan. Dan tak ada seorang teman yang kulihat hadir dalam upacara sakral itu. “Qabiltu nikaahaha wa tazwijahaa bi mahril madzkuuri wa radhiitu bihi”, ucapku tegas, mantap sekokoh cinta yang kumiliki.

Mana pengantinku, itu yang kucari selesai ijab kabul tersebut. Seorang wanita bergaun pengantin itu menangis di tangga. Kucoba dekati dan duduk di sampingnya. Kaget, wajahnya persis seperti adik kandungku sendiri. Lalu mana kekasihku yang namanya tersebut sebagai istriku tadi. Aku mulai heran, merasa ada yang tidak beres. “Biasanya wanita seperti itu Yan, sedikit terharu saat pernikahan, jangan kuatir”, suara ibuku mencoba menenangkanku. Tapi hatiku tetap merasa aneh, mana Istriku?.. kenapa wajahnya bukan dia yang amat kusayangi..

Mencari ketenangan, ku pergi ke lantai empat. Aku bertemu seseorang yang kukenal. Mbak Afidah Wahyuni, sepupuku yang kini mengajar di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Seakan lupa apa yang barusan terjadi, aku hanya menanyakan kondisi beliau yang sedang tidak baik karena penyakit ginjalnya. Beliau tidak bercerita kenapa pergi ke Shanghai ini, namun mungkin ada hubungannya dengan penyakitnya, atau pekerjaannya, atau mungkin keduanya. Sempat menangis dan minta doaku, aku pun menyanggupi dan turun lagi ke lantai berikutnya.

Lantai satu, kulihat layar proyektor besar di tengah ruangan. WELCOME TO SHANGHAI, THE BIGGEST MARKET IN CHINA. Hahaha, Aku sampai lupa, seolah sibuk dengan duniaku, sampai tempatku saat ini tak kuketahui. Hmm.. Ayah, Ibu dan adik – adikku belanja. Aku hanya belanja handphone yang kuperlukan. Sambil mencoba hp baru, pandanganku tertuju pada tiga sosok yang rasanya kukenali. Itukan mertuaku, dan salah satunya, putri kesayangan mereka, Istriku?.. Aku mendekat ke mereka, tapi putri mereka kembali menjauh ke tempat lain.

“Om, Tante, mungkin sudah waktunya saya memanggil Om dan Tante dengan Ayah dan Ibu, sebagaimana Istri saya memanggil Om dan Tante dengan Ayah dan Ibu. Bagaimana?” tanyaku sambil duduk menghadap mereka berdua. Ayah dan Ibuku tersenyum dari kejauhan. “Kok masih pake Om dan Tante? Kamu putra kami juga Yan” ujar Pak ******* menangis sambil memelukku, terharu. Aku juga sebenarnya terharu, baru pertama merasakan pelukan sayang seorang ayah mertua. Tapi, sekali lagi, ada yang aneh, yang membuat rasa haruku makin pudar. Selain Istriku yang tak mau mendekatiku.

Apartemenku, sendirian. Entahlah, apa karena di Shanghai, tak ada teman yang bisa kuundang merayakan resepsi pernikahanku. Atau ada hal lain aku juga tak paham, yang pasti, Istriku tak ada di sini, kemana? Aku pun tak bisa menjawab. Aku berjalan lagi, malam hari, sendiri, menuju kios bu Siti, TKW yang sudah bertahun-tahun di Shanghai. Meskipun kecil, kiosnya laris, karena dia menjual rempah-rempah dari indonesia. Tentu saja, bawang adalah bau yang paling mendominasi kiosnya. Malam itu beliau bercerita, bahwa di tempat asal kami, Indonesia, sedang ada pandemik yang berasal dari Kalimantan Tengah. Dan oleh karena itulah, pedagang pedagang dunia saat ini membawa patung kecil keberuntungan yang diyakini melindungi mereka dari marabahaya tersebut. Aku melihat keluar kios, mengikuti Bu Siti yang menunjukkan patung besar di depan komplek, sama persis dengan patung-patung yang dibawa para pedagang lalu-lalang, kecuali Bu Siti.

Bu Siti kembali ke kios kecilnya. Aku beranjak dari tempatku berdiri, tertarik dengan kumpulan orang di salah satu sisi jalan. “Patung Perlindungan” demikian arti dari tulisan cina di papan tempat orang-orang itu berkumpul. Seseorang tua sedang berkomat-kamit di tengah kerumunan itu sambil memegang patung kecil. Selanjutnya patung itu diberikannya pada pembeli yang sudah dari tadi menunggunya. Aku tersenyum kecut, ternyata masih ada “orang cerdas” yang memanfaatkan situasi seperti ini dengan menjual patung dari doa-doa mereka sendiri.

Gontai ku berjalan menanjak ke arah utara, sebuah kuil berdiri di ujung bukit. Menutupi bulan yang tak begitu cerah. Sambil terus berpikir tentang yang telah kualami akhir-akhir ini. Reuni angkatan yang belum terwujud hingga sekarang. Pernikahan yang seharusnya indah, namun kemana sang Istri tercinta pun ku tak tahu. Mertua yang sudah terlalu baik kepadaku, mempercayakan semuanya padaku, tapi aku yang belum bisa memahami apa yang putri mereka inginkan. Pandemik yang mulai merambat lagi dari tanah air kelahiranku. Dan derita kebodohan masyarakat yang tak kunjung terobati. Kenapa terlalu berat perjalanan ini, seakan tak ada akhir. Lelah tubuh memang mudah dihilangkan. Namun akan penat kembali bila hati ini sudah terlalu jenuh.

Aku menundukkan pandanganku, tak terasa bukit tempat kuil itu berdiri sudah kulewati. Tangga batunya mulai berakhir, digantikan semen yang tak seberapa mulus. Tiba-tiba seseorang menabrakku dari depan, menjatuhkan buku yang lumayan tebal dan lebar di depan kakiku. “Maaf Kak”, ujar suara bocah yang tadi menabrakku. Aku terkejut, bahasa indonesia. Seorang lagi datang padaku mengambil benda yang tadi terjatuh. “Maaf Kak, tadi kejar-kejaran sama dia”.

Aku tersenyum melihat dua bocah kecil memakai kopiah putih tersebut. “Dari mana?”, tanyaku
“Belajar ngaji di surau”, ujar seorang dari mereka sambil membersihkan Al-Qur’an yang tadi terjatuh.
“Oh, ya sudah, pulang dulu gih, sudah malam, Ibu kalian menunggu di kios”
“Iya Kak, Assalamualaikum” ucap mereka sambil berlari lagi ke arah ku berjalan
“Waalaikum salam” ujarku pelan. Mereka putra kembar Bu Siti. Yang kemudian membuatku sadar. Sudah berapa lama aku menjauh dari Tuhanku. Sampai-sampai kitab sucinya pun hampir tak kukenali.

Lemas, hampir tak ada tenaga lagi. Kubaringkan punggung ini di kasur, mencoba melepaskan semua masalah yang ada. Menggantikannya dengan sesuatu yang lebih pasti untuk esok hari. Hari ini memang bulan tak bersinar dengan terang. Tapi matahari esok masih bisa kuharapkan untuk menerangi hatiku yang kelam ini.

Kulihat kembali jam tanganku, pukul 22.58. Sudah waktunya ku tertidur. Tapi, kenapa mataku malah terbuka..

(spesial buat Tee yang smsnya gak qbales gara2 qtinggal berangkat ke Shanghai. Buat Om Yudhistira juga deh, biar cepet2 ngikutin apa yang kuucapin di baris akhir paragraf 4)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.