AIDS yang sudah pasti tidak asing lagi bagi masyarakat akademik, terutama Fakultas Kedokteran. Penyakit yang disebabkan oleh HIV ini termasuk sebagai 10 besar pembunuh di dunia. Sejak istilah ini diketemukan oleh dr.Robert Gallo dan dr.Luc Montagnier pada 1981, penyakit ini telah memakan korban lebih dari 24 jiwa. Mirisnya, penyakit ini ternyata sudah diwanti-wanti dan dicanangkan pencegahannya pada sekitar tahun 600 M. Kenapa bahkan sampai terjadi apabila pencegahannya sudah diketahui 13 abad sebelumnya.
Secara medis, AIDS yang memiliki kepanjangan Acquired Immuno Deficiency Virus itu sendiri merupakan sindrom (kumpulan gejala) yang menunjukkan adanya penurunan system ketahanan tubuh manusia. AIDS ini disebabkan oleh infeksi virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang habitatnya ada di dalam sel CD4. Yang perlu diketahui, sel CD4 merupakan salah satu sel dalam tubuh yang memiliki peran penting dalam system pertahanan tubuh.
Sel CD4 ini mempunyai tugas untuk mengeliminasi berbagai macam protozoa, bakteri, parasit maupun virus yang masuk ke dalam tubuh. Karena HIV memiliki komponen yang khusus, virus ini mampu untuk tetap hidup dalam sel CD4. Namun, bukannya dicerna, virus ini malah sanggup hidup dan malah ”memperbudak” sel CD4 untuk membantunya berkembang biak. Setelah berkembang biak, virus inipun menghancurkan CD4 dan menginfeksi sel CD4 lainnya.
Dengan kondisi tubuh yang menurun sistem imunnya, pasien mudah mengalami infeksi dan penyakit lainnya. Hal inilah yang seringkali mengakibatkan kematian pada pasien AIDS. Malah ada catatan bahwa dengan penyakit flu biasa, pasien dapat meninggal dengan mudahnya.
Tercatat sejak tahun 1981, ditemukannya wabah Kaposi Sarcoma dan Pneumocystis di antara pria gay di New York dan California. Ketika Centers for Disease Control melaporkan wabah baru yang mereka menyebutnya “GRID” (defisiensi kekebalan terkait gay). Kalaulah kita kembali ke zaman sekarang, gejala-gejala ini merupakan tanda-tanda yang paling sering pada pasien dengan AIDS. Pada saat itu, muncullah stigma bahwa komunitas gay sebagai pembawa penyakit mematikan ini. Kalaulah kita jeli melihat hal ini, mungkin kita sudah bisa menemukan bahwa dalam Al-Qur’an sudah pernah ada peringatan dari Allah SWT:
“Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas” {Al-A’raf: 81}
Namun beberapa tenggang waktu kemudian, kasus mulai terlihat pada heteroseksual, pecandu narkoba, dan orang-orang yang menerima transfusi darah, membuktikan sindroma ini tidak mengenal batas.
Pada tahun 1983, para peneliti di Institut Pasteur di Perancis mengisolasi retrovirus yang mereka yakini berkaitan dengan wabah HIV / AIDS. Tiga puluh tiga negara di seluruh dunia telah mengkonfirmasi kasus penyakit yang pernah terbatas ke New York dan California. Kontroversi muncul setahun kemudian ketika pemerintah AS mengumumkan ilmuwan mereka, Dr Robert Gallo mengisolasi sebuah retrovirus HTLV-III, bahwa ia juga mengklaim bertanggung jawab untuk AIDS. Dua tahun kemudian itu menegaskan bahwa HTLV-III dan retrovirus Pasteur memang virus yang sama, namun Gallo masih dikreditkan dengan penemuannya. Sebuah komite internasional ilmuwan mengubah nama virus HIV.
Pada tahun 1984, Seorang pramugari Kanada, dijuluki “pasien nol” meninggal karena AIDS. Karena hubungan seksual untuk beberapa korban pertama HIV / AIDS, diyakini bahwa ia bertanggung jawab untuk memperkenalkan virus ke populasi umum.
• •
“Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin” (Al-Nur: 3)
Pada ayat di atas diterangkan bahwa sudah sepantasnya bagi para pezina untuk tidak menikah dengan selain pezina. Selain hal ini adalah untuk menjaga harkat dan martabat, ternyata hal ini juga merupakan upaya pencegahan terhadap beberapa penyakit menular yang disebabkan oleh hubungan seksual, termasuk AIDS. Sangat mirip dengan yang terjadi pada kasus di atas. Maka betapa mengerikannya hal ini membuat Allah SWT tidak tanggung-tanggung menyarankan kita untuk tegas menanggulangi para pezina:
• • •
“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, Maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman” (Al-Nur:2)
1987, pengobatan baru muncul yang dipuji sebagai langkah besar pertama dalam mengalahkan HIV / AIDS. Obat Retrovir (AZT, Zidovudine) adalah FDA disetujui dan mulai digunakan dalam dosis tinggi untuk mengobati orang yang terinfeksi HIV. Dan tidak satu menit terlalu cepat. Secara politis, HIV / AIDS adalah topik yang paling hindari. Tetapi dalam menanggapi tekanan publik, Presiden Ronald Reagan akhirnya mengakui HIV / masalah AIDS dan untuk pertama kalinya menggunakan “AIDS” dalam sebuah pidato umum. Karena pada saat itu, jumlah kasus AIDS yang tercatat sudah sampai seratus ribu.
Pada tahun 1992, FDA menyetujui obat pertama untuk digunakan dalam kombinasi dengan AZT.Namun pada 1993,Orang yang terinfeksi dan ilmuwan sama-sama bingung dan prihatin ketika sebuah penelitian di Inggris, Ujian Concorde, menawarkan bukti bahwa monoterapi AZT tidak melakukan apapun untuk menunda pengembangan menjadi AIDS pada pasien tanpa gejala. Akibatnya, perdebatan AZT muncul, dengan satu sisi menyatakan AZT menyelamatkan nyawa dan AZT mencela lain sebagai tidak berguna.
•• •
“Hai manusia, Sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman” {Yunus :57}
• •
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka””.{Ali Imran:190-191}.
Mungkin ayat-ayat di atas dapat menjadi jawaban sekaligus pekerjaan rumah bagi kita semua untuk menemukan penyembuh yang tepat untuk AIDS ini. Allah SWT telah menurunkan petunjuknya ke dunia ini, baik secara naqli (tertulis) dan Aqli (tak tertulis). Karena faktanya hingga sampai pada akhir tahun 2009, dari 33 juta penduduk dunia yang dinyatakan mengidap AIDS, baru 4 juta orang di negara-negara berkembang yang menerima penanganan AIDS ini. Sementara yang lain?
Comments on: "Pencegahan AIDS Sudah Ada 13 Abad Sebelum AIDS Diketemukan" (1)
tulisan arabnya ga keliatan..
aku masi penasaran gmana ngatasin penyakit ini..