Akhir November 2010,
Para Warrior yang kukumpulkan sudah berkumpul hendak menuju tempat peristirahatan.
“Masih belum Isya” pikirku “Kita berangkat setelah Isya saja ya teman-teman”, ujarku pada para sahabatku tersebut. Mereka mengangguk, sambil melirik jam dinding di NurusySyifa dan melanjutkan pembicaraan mereka. Tak lama kemudian, Adzan pun terdengar samar dari luar musholla. Segera kami kumandangkan namaNYA. Dan kemudian berjamaah menunaikan panggilanNya.
Lantai satu, masing-masing menuju alas kaki masing-masing. “Rek, sepatuku tak deke’ ndi (Temen2, sepatuku kuletak dimana ya)?” sebuah suara mengusik orang-orang di teras.
“Lha, sepatuku juga gak ada” suara yang kedua mengalihkan konsentrasiku memakai sepatu.
“Ndak di depan kah?” tanyaku balik pada mereka.
“Mboh, lali Aku..perasaan ga mlebu laci” sambung suara pertama tadi sambil membuka-buka laci sepatu.
“Di depan juga ga ada nih” ujar salah seorang sahabat yang datang seusai mencari sepatunya di teras depan. 2 orang sahabatku tersebut masih sibuk bertukar tempat dan mencari dimana sepatu mereka. Kami yang tersisa hanya membantu memperhatikan sepatu yang berderet di teras, namun lama-kelamaan sudah terpasang di kaki masing-masing, kecuali dua pasang kaki yang masih mondar – mandir mencari sepatunya.
“Lha, iki kaos kakiku, tapi sepatune gak ada”.Serentak seluruh warrior tersenyum, ada maling yang pilih-pilih kaos kaki juga ternyata.
“Serius ta? Tmenan gak ono?” warrior lain bertanya.
“Wah rekor iki, dua kali seminggu” ujar sahabat sambil tersenyum bingung mencari sepatunya.
“Korban berjatuhan lagi” ujar warrior yang lain.
“Besok kuliah gimana? ada sepatu?” tanya kami pada salah seorang yang kehilangan sepatu
“Insya Allah ada sih, Awakmu piye?” jawabnya sekaligus bertanya pada seorang lagi
“Aku gak ada lagi, minggu ini hilang dua kali, paling besok pinjem temen kos dulu”. Kami bergeleng-geleng.
“Semoga DIA ganti dengan yang lebih baik” ujar salah seorang dari kami.
“Ayo berangkat, sepertinya sudah ditunggu di tempat acara”. Kami pun berjalan ke kendaraan masing-masing. Dengan niat ikhlas..
Dua jam berlalu sejak insiden tersebut. Dengan izin Allah di tempat peristirahatan kami,dua orang yang tadi kehilangan sepatu masing-masing menjadi juara satu dari beberapa kategori yang diperlombakan. Dan jujur, meskipun aku panitia dan tahu mereka yang menang, hadiahnya dari Allah, aku pun tak tahu apa yang disediakanNya. Masing-masing dari kami membawa cinderamata atas kenang-kenangan dan terimakasih dari hasil penelitian salah seorang mahasiswa S3 FKUB.
Sesampainya di kos, aku mencoba membuka cinderamata tersebut. Dan Subhanallah, ukuran cinderamata tersebut benar-benar tak sebanding dengan nilainya. Benar-benar tak diduga manfaatnya yang besar. Aku berpikir, sahabat-sahabatku yang tadi menang perlombaan mendapat hadiah dan juga cinderamata sekaligus. Dengan kata lain mereka yang kehilangan sepatu mendapatkan dua kali lipat (bahkan lebih)dari kami yang tidak kehilangan sepatu. Mereka dapat memiliki sesuatu yang lebih baik dari yang mereka miliki sebelumnya.
Sungguh ini adalah sebuah peringatan Allah untuk selalu bersyukur. Untuk Kita selalu Ikhlas dan tunduk terhadap setiap hal yang ditakdirkannya. Untuk selalu Husnu-dzan padaNya. Agar selalu awas dan was[ada untuk mengambil hikmah atas semua hal yang terjadi. Karena bagaimanapun juga DIA lebih tahu apa yang benar-benar kita butuhkan. Dan ingatlah, Innallaha Sarii’ul Hisab (Sesungguhnya Allah amat sangat cepat dalam memperhitungkan segala sesuatu).
Comments on: "Ingatlah.. DIA akan SELALU menggantinya dengan yang lebih baik.." (2)
betul2 setuju…
aq juga pernah nulis di blog tentang hal semacam ini..
keep writing!
kamu belum bales commentku andrian…
ayooo dibales, aku juga baru bales comment km di blogku. Comment pertama waku aku baru punya Blog
baca yaa